Jumat, 02 Juni 2017

MEMBANGUN BUDAYA SANTUN DALAM AGAMA BUDDHA


Sukarāni asādhūni                 attano ahitāni ca
yaṁ ve hitañca sādhuñca      taṁ ve paramadukkaraṁ

Sungguh mudah untuk melakukan hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat,
tetapi sungguh sulit untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.

(Dhammpada; Atta-Vagga; 163)




Secara umum banyak orang telah melupakan nilai-nilai keluhuran yang telah diajarkan dalam ilmu prilaku yang dikenal dengan sebutan “Agama”. Nilai keluhuran tertuang dalam norma budaya dengan istilah budaya santun. Budaya santun merupakan ajaran yang telah diwariskan dari para pendahulu, yaitu leluhur. Budaya santun secara Buddhis juga telah diajarkan oleh Buddha dalam Dhamma yang dikenal adalah etika atau moralitas. Dalam kamus besar bahasa Indonesia arti dari santun adalah (1) halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; (2) penuh rasa belas kasihan; suka menolong.
            Terkait dengan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa santun merupakan suatu ilmu yang mengajarkan seseorang untuk menjadi lebih halus dan lemah lembut. Pernyataan ini telah Buddha jelaskan dalam bait Maṅgala Sutta yaitu “terlatih baik dalam tata susila”. Manusia pada umumnya wajar melakukan tindakan kesalahan, akan tetapi menjadi tidak wajar apabila selalu melakukan keburukan tanpa adanya tindakan untuk menyadari perbuatan buruknya.
            Perbuatan buruk merupakan kebiasaan (budaya) yang sering dilakukan oleh setiap orang, akan tetapi setiap orang menggemari perbuatan buruk yang tidak bermanfaat. Perbuatan buruk yang tidak membawa manfaat dapat dilakukan dari tiga pintu indria, yaitu pikiran, ucapan, dan prilaku badan jasmani. Budaya santun akan terbentuk apabila seseorang dapat menjalankan isi dari Maṅgala Sutta yang berbunyi sebagai berikut:

Bahūsaccañca sippañca        Vinayo ca susikkhito
Subhāsitā ca yā vācā              Etammaṅgalamuttaman’ti.

(Berpengetahuan luas, berketerampilan,                  terlatih baik dalam tata susila,
dan bertutur kata dengan baik,                                 itulah berkah utama).


A. Santun berpikir

Keburukan yang dilakukan dari pikiran sering terjadi dengan berpikir buruk terhadap orang lain, berpikir keliru, memiliki pandangan salah. Hal-hal tersebut sudah menjadi budaya yang tidak baik dalam diri seseorang yang seharusnya mampu berpikir jernih. Santun dalam berpikir akan terbentuk apabila seseorang memiliki pengetahuan dalam berpikir yang ditembus dalam pengembangan meditasi, yaitu mengetahui dengan jelas pikiran baik dan buruk yang sedang muncul. Secara bijaksana seseorang memotong pikiran buruknya dengan kesadaran, perhatian dan kewaspadaan. Selanjutnya adalah memiliki keterampilan dalam berpikir, yaitu mampu terampil dalam menata pikiran, disamping seseorang terampil dalam segi kerajinan tangan. Keterampilan yang sesuai Dhamma merupakan bagian dari seni yang juga dipuji oleh sang Buddha. Orang yang tidak terampil dalam menata pikiran, maka ia akan dengan serampangan berpikir hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat dengan mudah. Justru sebaliknya, sungguh sulit seseorang menata pikirannya kearah yang baik, karena seseorang tidak terampil dalam segi menata pikirannya. (contoh kasus: selalu curiga, tidak percaya, berprasangka buruk).
      Terkait mengenai pikiran. Tertuang dalam Dhammapada Yamaka-vagga; 1, bahwa pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu. Pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara dan berprilaku dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya. Sebaliknya dalam Dhammapada yang sama, syair ke 2 dijelaskan, apabila sebaliknya seseorang memiliki pikiran, ucapan, dan prilaku yang murni, maka perbuatan baiknya akan mengikuti seperti bayang-bayang yang tidak pernah meninggalkan bendanya. Pikiran yang tidak tertata dengan pola yang baik, maka banyak permasalahan baru akan muncul. Pikiran yang buruk dalam segi kehidupan masyarakat dapat dijumpai, seperti seseorang memiliki rasa tidak suka dengan orang yang dianggap musuhnya. Sehingga pada saat di vihara mereka tidak bertegur sapa, bertengkar hingga berkelahi. Mereka melupakan bahwa kita adalah saudara dalam Dhamma.
Banyak kasus-kasus yang dapat kita temui dalam keseharian terkait pikiran buruk. Rasa keakuan dalam benak seseorang juga akan muncul pada saat orang tersebut memiliki kedudukan di suatu vihara tertentu. Sehingga dengan niat buruk orang tersebut merendahkan orang lain, dengan melihat latar belakang orang lain, kedudukan, dan pendapatan. Hal ini sangat ironis bagi umat Buddha yang belajar Dhamma tidak menjadi orang yang rendah hati, melainkan menjadi tinggi hati.

     B. Santun berucap

Ucapan yang tidak baik terkadang seseorang melakukannya dengan sengaja. Hal ini merupakan tindakan dari keburukan yang sering dilakukan. Terkadang orang mengucapkan istilah salam “Namo Buddhaya”, akan tetapi kelanjutan dari rentetan pembicaraannya berisikan ucapan yang buruk dan tidak bermanfaat. Umat Buddha yang terkadang sering ke vihara justru menjadi pelaku dalam ucapan yang tidak baik, seperti memarahi orang dengan kata-kata kasar, bergosip, menfitnah. Hal-hal ini adalah tidak sesuai dengan isi Maṅgala Sutta yaitu “bertutur kata dengan baik. Santun dalam berucap adalah seseorang dengan pengetahuannya dapat mengendalikan ucapannya untuk tidak melontarkan kata-kata yang buruk dan tidak bermanfaat. Sehingga perasaan orang lain terluka karenanya.
Selain itu mereka yang terampil juga dapat memilah ucapan-ucapan yang buruk dan baik, bermanfaat dan tidak bermanfaat. Buddha mengajarkan kepada umatnya bahwa hanya ada dua hal yang sewajarnya dilakukan yaitu “apabila seseorang berbicara, berbicaralah Dhamma, apabila tidak ada yang dibicarakan, maka selayaknya diam dan membina batin (Meditasi)”. Hal ini juga telah dijelaskan dalam sῑla keempat dalam lima aturan moralitas dalam agama Buddha untuk berlatih diri dengan tidak mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat atau berbohong. Kata-kata yang tidak bermanfaat disini memiliki cakupan yang luas, seperti berbicara kasar, bergosip, menfitnah.

        C. Santun berprilaku

Prilaku yang dilakukan oleh badan jasmani yang dituntut untuk diwaspadai. Banyak orang yang melupakan budaya santun dalam berprilaku. Berprilaku dapat dikategorikan dalam beberapa bagian, yaitu berprilaku dalam tindakan, dan berprilaku dalam berbusana. Realita yang dapat dilihat apabila melakukan perbandingan umat Buddha di daerah, desa, pedalaman jauh lebih santun dalam berprilaku dalam tindakan, seperti contoh mereka ke vihara selalu memberi salam anjali pada sahabat-sahabatnya, memberikan perhatian dikala sakit, membantu pada saat ada kegiatan, tahu malu pada saat di vihara dengan mendengarkan ceramah Dhamma secara serius, tidak berbicara sendiri, tidak bermain handphone, tahu batas ukuran makan, sebagai intinya rasa toleransi masih terpelihara dengan baik.
Selain itu berbudaya santun dalam berpakaian, menggunakan busana (pakaian) secara santun, semua serba tertutup dalam berpakaian, punya rasa enggan ke vihara dengan busana yang serba kekurangan. Kalau dibandingkan dengan umat Buddha di kota, meskipun tidak semuanya. Akan tetapi ada diantara mereka ke vihara tidak beretika dalam berbusana, berbusana tidak lengkap (pakaian yang belum siap jadi sudah dipakai), hal ini juga kurang terampil dalam memilih pakaian. Pakaian yang seharusnya dipakai dipantai, disawah, dipakai ke vihara.  Selain itu juga perasaan malu dalam menyapa orang yang ditemui dengan bersikap anjali. Budaya anjali seolah-olah bukan tradisi buddhis, sehingga malu untuk melakukannya Kasus lainnya adalah pada saat ada kegiatan mereka enggan membantu, akan tetapi ingin selalu tampil di depan agar dikenal. Ada juga ke vihara hanya sembahyang lalu pulang tanpa pengetahuan yang didapat. Selanjutnya ada yang kelihatannya santun, tetapi pada saat mendengarkan ceramah orang tersebut berbicara sendiri dan main hand phone. Perkara makan juga menjadi masalah dalam tujuan orang ke vihara. Sehingga sangat jelas bahwa kita yang masih serba kekurangan selayaknya selalu membimbing diri secara benar setiap saat.
Buddha juga menjelaskan dalam Maṅgala Sutta, yaitu Attasammāpaṇidhi, Etammaṅgalamuttamaṁ (membimbing diri dengan benar, merupakan bagian dari berkah utama. Apabila seseorang semasa hidupnya tidak membimbing diri dengan benar, justru menjerumuskan diri ke dalam liang derita, maka dalam waktu yang panjang pula penderitaan yang dirasakan pada dirinya. Berbuat buruk dan hal yang tidak bermanfaat adalah suatu hal yang mudah, dan sulit bagi mereka yang mau berbuat baik dan hal yang bermanfaat.
            Hidup seseorang akan bermanfaat, bahagia, tentram, damai, apabila mampu menerapkan budaya santun dalam berpikir, berucap, dan berprilaku. Hal ini telah dijelaskan oleh sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya III; 50, yaitu: “Makhluk apapun yang berprilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Sepanjang pagi, siang, dan malam, maka sepanjang itupula mereka akan bahagia dan kebahagiaan itu akan menjadi milik mereka”.


Refrensi:

Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Vihāra Bodhivaṁsa,
Klaten: Wisma Dhammaguṇa.
Bodhi, Nyanaponika. 2003. Majjhima Nikāya. Vihāra Bodhivaṁsa,
Klaten: Wisma Dhammaguṇa.
Vijāno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: Bahussuta Society.

MEMUJA BUKAN MEMINTA


Para Bhikkhu, ada lima kekuatan di dalam diri
orang yang menjalankan latihan yang lebih tinggi.
Lima hal itu adalah keyakinan, malu, takut, moral, semangat, dan kebijaksanaan.

(Anguttara Nikaya 5: 2)


Pada umumnya orang-orang yang memiliki identitas dan mengaku sebagai umat Buddha, akan tetapi tidak menjadi umat Buddha yang sebenar-nya. Apabila kita melihat banyak umat Buddha tradisi yang datang ke vihara hanya membakar dupa (hio) dan meminta-minta kepada Buddha untuk diberikan karunia kesehatan, rezeki, jodoh, dll. Hal ini terkadang membuat umat Buddha meyakini cara yang ia lakukan sudahlah benar, justru sebenar-nya karena ketidaktahuannya menganggap dengan meminta itulah memuja. Sesungguhnya memuja bukanlah meminta. Tradisi meminta merupakan tradisi turun-temurun yang dianggap apabila tidak dilakukan maka berkah tidak didapat (tidak afdol tanpa meminta). Meminta merupakan hal yang dilakukan atas dasar ketidaktahuan. Hal ini dapat merusak keyakinan terhadap kebenaran Dhamma sesungguhnya.

Seringkali umat bertanya; “Bhante, boleh tidak sebagai umat Buddha meminta berkah kepada Buddha, seperti kesehatan, umur panjang, rezeki?” Saya menjawab dengan perumpamaan benih padi; “sekarang, berkah itu ibarat seperti benih padi yang anda tabur di ladang yang subur. Sepanjang siang dan malam terus berdoa dan meminta kepada Buddha untuk besok pagi panen, apakah bisa? Padi itu akan panen sesuai kondisi waktu dan iklimnya, tanpa harus meminta. Sama halnya berkah akan men-jadi milik anda, kalau anda menabur benih kebaikan dalam hidup ini. Meningkatkan keyakinan dengan sadar malu berbuat jahat, takut akan akibat-nya, melaksanakan moralitas dengan baik, memiliki semangat dalam berlatih, dan bijaksana dalam hidup.

Pengetahuan
Dalam Sangarava-Sutta Buddha menjelaskan ada tiga kelompok keyakinan yang mengajarkan ajarannya dengan cara sendiri, salah satunya adalah kaum tradisonalis (anussavika) mengajarkan sumber pengetahuan yang tertuang dalam Kalama Sutta yaitu
1)   Anussavena (tradisi lokal)
2)   Paramparaya (tradisi turun te-murun)
3)   Itikaraya (kabar burung)
4)   Pitakasampadaya (kitab suci)
5)   Bhavyarapataya (orang yang di-anggap baik)
6)   Samano no garu (perkataan dari guru yang dihormati).
Ada juga kaum yang kedua adalah kaum rasionalis (Takka Vimaṁsa) yang mengajar-kan ajarannya berdasarkan Takka-hetu (logika)
1)   Naya-hetu (kesimpulan)
2)   akara-parivitakkena (sesuatu yang sudah direnungkan)
3)   Diṭṭhinijjhanakkhantiya (sesuatu yang sudah disetujui)

Serta yang ketiga adalah kaum empiris  yang meletakkan pencapaian pengalaman diri, seperti menyiksa diri sebagai bagian dari pengetahuan. Buddha mengkritik kelompok tersebut dalam  Caṅki Sutta-Majjhima Nikaya, dan  Sandaka Sutta-Majjhima Nikaya,  bahwa pengetahuan tersebut tidak membawa pada penembusan pengetahuan Dhamma.

Menghormat bukan menyembah
Sesungguhnya dalam Dhamma dijelaskan menghormat kepada Tiratana merupakan hal yang mulia. Kemulian itu akan lenyap apabila umat Buddha menyamakan istilah menghormat dengan menyembah. Buddha bukanlah tempat menyembah dengan meminta-minta berkah. Buddha juga tidak mengajarkan siswanya untuk menjadi pengemis spiritual ataupun berkah. Pratima (Rupaṁ) Buddha memiliki nilai keagungan seseorang yang telah mencapai kesempurnaan, sepatutnya umat Buddha menghormat atas keluhuran pencapaian Buddha. Pandangan umum menilai umat Buddha adalah menyembah patung Buddha dan muncul istilah umat Buddha adalah “Penyembah Berhala”. Hal ini terjadi karena kesalahan seseorang yang tidak mau belajar Dhamma yang mulia. Buddha menjelaskan dalam  Anguttara Nikaya IV; 21, bahwa “Para Buddha terdahulu, saat ini, maupun yang akan datang menghormat Dhamma sejati.  Itulah hukum alam dari para Buddha. Karena itu orang yang menginginkan kebaikannya sendiri, harus dengan rendah hati menghormat Dhamma sejati, dengan mengingat ajaran Buddha.”
Selain itu menghormat (puja) dalam Dhamma dijelaskan ada tiga macam, yaitu mempelajari Dhamma dengan penyelidikan Dhamma (Dhamma-vicaya), selanjutnya Dhamma dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah seseorang mempraktikkan Dhamma, sebagai hasil dari perbuatan (vipaka kamma) umat Buddha dapat menembus Dhamma dengan pengalaman diri yang bersumber dari pengetahuan dan berlandaskan pada kebijaksanaan Sehingga anggapan umat Buddha sebagai penyembah berhala dapat diluruskan dengan pencapaian yang diraih.

Berbhakti bukan pasrah
Umat Buddha selayaknya meletakkan bhaktinya pada Dhamma dengan tidak pasrah pada nasib dan takdir. Dalam Dhamma nasib dan takdir adalah kamma sebagai penentu dari diri sendiri. Karena Buddha bukan-lah pencipta yang dapat menghukum siswanya yang salah, ataupun juru selamat yang dapat menolong umatnya dari berbuat buruk. Buddha adalah Guru yang mendidik siswanya untuk belajar  bertanggung jawab atas perbuatannya dan mendidik agar mandiri,  tidak manja. Buddha telah meninggalkan ajaran Dhamma yang dapat menuntun kita keluar dari samsara dengan semangat melaksanakan moralitas, mengembangkan meditasi, malu berbuat jahat, takut akan akibat dari keburukan. Dengan demikian, maka pengetahuan Dhamma akan muncul, keyakinan akan meningkat, serta kebijaksanaan pun akan muncul. Sehingga umat Buddha tidak lagi menjadi peminta berkah, melainkan pelaksana Dhamma.
Inilah lima kekuatan siswa yang berlatih. Marilah kita berlatih dalam Dhamma sehingga pada akhirnya kita semua dapat merealisasi pencapaian Nibbāna dengan dasar pengetahuan kebijaksanaan. 

Sadhu! sadhu! sadhu!


Referensi:
-   Bodhi, Nyanaponika. 2003. Petikan Aṅguttara Nikaya. Vihara Bodhivaṁsa, Klaten: Wisma Dhammaguṇa.
-   Saddatissa. 1999. Sutta Nipata. Klaten: Vihara Bodhivaṁsa.
-   Vijàno. 2013. Dhammapada. Tanpa kota: Bahussuta Society.

Kamis, 01 Juni 2017

KIAT HIDUP SUKSES DENGAN BERINVESTASI KEBAJIKAN



Tidak berbuat segala keburukan, mengembangkan kebajikan,
menyucikan pikiran sendiri, ini adalah ajaran para Buddha.
(Dhammapada XIV: 183)




Kegagalan Hidup

 

Dalam kehidupan setiap orang mendapatkan bahagia atau tidak, semua  tergantung pada perbuatan yang dilakukan. Perbuatan baik akan menghasilkan hal yang baik, sebaliknya perbuatan buruk akan menghasilkan yang tidak baik. Kita dapat melihat berbagai kasus dalam masyarakat mengenai ke-gagalan hidup, seperti usaha mengalami kerugian, putus cinta, per-tengkaran, kekerasan, hingga perceraian dalam rumah tangga, ada pula karena hutang piutang. Mereka tertekan, khawatir, putus asa, kecewa, dan malu, sehingga ada yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri akibat dari stres berkepanjangan tanpa menemukan solusi. Kegagalan hidup terjadi karena tidak adanya pengertian benar dalam menghadapi kehidupan ini. Apabila seseorang tidak memiliki pengertian benar, maka orang tersebut akan sangat marah, kecewa, putus asa, selain itu juga dapat mendorong diri mereka melakukan kejahatan apabila ke-inginannya tidak terpenuhi. Pengertian salah, dan nafsu keinginan muncul akibat dari ketidaktahuan.
Ketidaktahuan itu akan menimbul-kan penderitaan, batin mereka terbakar, dan mereka tidak menemukan solusi dalam hidupnya. Beberapa orang ber-pikir bahwa dengan minum-minuman keras dan penggunaan narkoba adalah cara yang baik dan tepat untuk meluap-kan stres. Hal itu bukanlah solusi, justru mereka membuat permasalahan baru.  Kesuksesan yang diraih dengan cara yang tidak benar, akan berakhir juga dengan tidak baik (kegagalan hidup). Kegagalan hidup selain dari-pada harta, tahta, dan pasangan hidup, juga yang terpenting adalah gagal dalam menjalani spiritual hidup. Orang yang jauh dari keyakinan terhadap agama, maka orang itu sudah gagal dalam menata dirinya dalam kebaikan. Apa yang ia kerjakan selalu bertolak belakang dengan kebaikan. Beberapa orang berpikir dengan kesuksesan materi, maka akan tercapai kesuksesan hidup. Tidak peduli terhadap  kualitas batin, sehingga tidak sedikit di antara mereka yang melekat pada keserakah-an, akan meratapi materi yang hilang karena perubahan.

Investasi Kebajikan
Seseorang yang berinvestasi dalam suatu perusahaan dengan penanaman modal selalu memiliki tujuan mem-peroleh keuntungan. Secara Dhamma berinvestasi yang baik dan tidak ter-cela, serta mampu menjaga aset, men-jalani dengan kebenaran, kesabaran, dan kejujuran, maka hasilnya juga akan baik. Keuntungan yang didapat juga mampu dikelola untuk kebaikan. Dalam melakukan kebaikan, sama hal-nya seseorang telah berinvestasi, ia menanam modal kebajikan di dalam dirinya dengan memperoleh keuntung-an yaitu kebahagiaan. Seseorang dapat berinvestasi kebaikan secara mendasar dengan memiliki pengetahuan Dhamma. Adapun langkah yang dapat dimulai dengan:
  1. Seseorang selayaknya memiliki ke-sabaran dan tabah dalam menjalani hidup, tidak membenci, tidak melukai, tidak menyakiti orang lain, tidak karena marah mengharapkan orang lain celaka. Karena sifat tidak sabar, emosional akan menjauhkan sese-orang dari perbuatan baik. Selain itu akan membuat seseorang dijauhi oleh teman-teman dan orang lain.
  2. Menjalankan moralitas dengan baik, tidak berbuat segala keburukan,  baik melalui pikiran, ucapan, dan perilaku. Keburukan dapat dilakukan oleh seseorang yang tidak me-miliki pengendalian dalam dirinya. Pengendalian diri dalam diri se-seorang akan membuat seseorang terhindar dari keburukan, yaitu ter-hindari dari pembunuhan, mencuri, perbuatan asusila, berbohong, dan minum-minuman keras. 
  3. Mengembangkan samadhi dengan cara berlatih dalam satu objek hingga mencapai keteguhan pikiran, mencapai kemanunggalan pikiran. Setelah seseorang tekun melatih meditasi, maka ia akan menjauhi keburukan dalam dirinya.
  4. Seseorang yang gemar bermeditasi akan muncul dengan sendirinya kebijaksanaan dalam batinnya. Se-hingga ia mampu melihat muncul dan tenggelamnya pancakhandha. Selain itu jauh lebih tinggi ia akan memahami empat kebenaran mulia berkenaan dengan penderitaan, asal mula penderitaan, terhentinya pen-deritaan, jalan menuju lenyapnya penderitaan. Samàdhi yang dilandasi dengan pengembangan sãla akan memberikan hasil dan keuntungan.

Kesuksesan Hidup

Sukses tidaklah harus kaya, ataupun memiliki jabatan, akan tetapi perubahan menjadi lebih baik merupakan bagian dari kesuksesan. Seseorang yang telah melakukan investasi kebajikan dengan praktik kesabaran, melaksanakan moralitas, mengembangkan konsentrasi, dan mampu melihat segala fenomena batin dan jasmani dengan kebijaksanaan, maka ia telah sukses. Kesabaran yang dipraktikkan akan membuat seseorang belajar men-jadi tabah dalam menghadapi per-masalahan yang ada di masyarakat. Se-seorang yang telah memiliki kesabaran, ketabahan dengan semangat juang ia akan bangkit kembali dan berusaha untuk meraih sukses. Praktik moralitas juga penentu dari kesuksesan. Orang yang tidak beretika atau bermoral akan menjalankan usaha dengan tidak baik. Kewaspadaan merupakan alat kontrol dari batin yang berkembang. Batin yang berkembang didapat dari pe-ngembangan meditasi. Kesuksesan dari memiliki kewaspadaan adalah mem-buat seseorang memiliki pengendalian diri melalui pikiran, ucapan, dan perilaku. Sebaliknya batin yang kering akan membuat seseorang menjadi men-derita karena ketidakwaspadaannya. Hal yang terpenting apabila seseorang memiliki kebijaksanaan mampu me-lihat segala fenomena batin dan jasmani dengan kebijaksanaan, maka pengertian benar akan berkembang. Seperti yang telah  Sang Buddha babar-kan dalam Ovadapatimokkha bahwa kesabaran, ketabahan adalah cara me-latih batin terbaik. Nibbana adalah yang tertinggi. Marilah kita selalu melakukan investasi kebaikan, mengembangkan kebaikan, jauhkan diri dari keburukan, maka hidup akan menjadi sukses dan bahagia.

sadhu… sadhu…. sadhu…

PERCIKAN API KEHIDUPAN MEMBAKAR JIWA YANG SUKSES

Susukaṁ vata jῑvāma Verinesu averino Verinesu manussesu Viharāma averino sungguh bahagia kita hidup terbebas dari keserakahan, di...